Kamis, 20 Agustus 2020

Mari Bernostalgia dengan Sang Ksatria Pengembara (Don Quixote De La Mancha)

Dalam rangka memperingati Ulang Tahun Teater Tjerobong Paberik yang ke 25

Pementasan ini diangkat dari sebuah novel klasik karya  Miguel De Carvantes Saavendra yang berjudul Don Quixote De La Mancha

Sutradara : Topik Mulyana

Aktor :

Muhshiy Sudiatmo sebagai Alonzo Quinjano/Don Quixote

Dilly Erlangga sebagai Sancho Panza

Nadya Fahreza sebagai istri Sancho Panza

Tutun Turmudzi sebagai Pastor

Noor Hayati sebagai Garabina

Dio Arya Farenda sebagai Anak Lelaki

Sherina Rahmawati sebagai Pengemis 1

Ayu Nur Khofipah sebagai Pengemis 2

Kunrat Sofyan sebagai Nicholas

Dindin Najmudin sebagai Alfredo

Roma Hamonangan Pane sebagai Kesatria Cermin/Samson Carrasco

Taufik Rahman sebagai Tawanan 2/Pasamonte

Fikri Zuammah sebagai Saudagar 1

Sabda Yuda sebagai Pengawal 1

Widji Bayu sebagai Pengawal 2

Firlan F. Malayudi sebagai Saudagar 2

Sagr Jamal sebagai Lelaki Helm Baskom

Aldrin Khilbran S. Sebagai Lelaki Pembawa Ember

Iqbal Maulana sebagai Penjaga Penginapan

Valentinus Pandia sebagai Pero Perez/Pendeta

Mohamad Luthfi sebagai Haldudo

Esta Melina Damayanti sebagai Nyonya Antonia

Tiara Putri Gunatamy sebagai Dulcinea de Toboso

 

Penata Cahaya  oleh Achmad Haidar Islam

Artistik oleh Alm.Rachman Waluyo Sejati dan Iyan Rohyana

Tata Rias oleh Ricky Agung Setiawan

Penata Kostume oleh Dini Rayani

Dokumentasi oleh Darmawan Nugraha

Theme Song Creator oleh Syarif Maulana

Pemusik oleh Arifin Robby, Imran Muhariernur, Yogi Aditya P, Evangelista Felicia

Stage Manager oleh Noor Hayati

Publikasi oleh Iqbal Maulana

 

Alonzo Quinjano (M. Sudiatmo), seorang pria paruh baya yang tidak sadar bahwa ia hidup dalam dunia imajinasi menjadi seorang pahlawan akibat dari kesukaannya membaca kisah-kisah ksatria. Dia berkhayal bahwa dirinya adalah seorang ksatria penumpas segala kejahatan yang ada di negerinya. Alonzo berpetualang dengan penuh keberanian, konyol dan satir.

Berpenampilan seperti ksatria sembari menunggangi kuda ringkih dan tua yang bernama rosinante lengkap dengan peralatan perang mulai dari baju zirah, tombak, serta perisainya. Kemudian ia mengubah namanya menjadi Don Quixote de La Mancha yang berarti Tuan Quixote sang penguasa La Mancha. Namun dia belum jadi ksatria sejati bila belum dinobatkan, lalu pergilah ia ke kastil yang nyatanya hanya sebuah penginapan kecil. Penjaga penginapan yang menganggap bahwa pria itu sudah gila pun akhirnya menuruti kemauan Alonzo dan menobatkannya sebagai seorang ksatria.

Alonzo tidak bertualang sendirian, ia selalu di temani oleh Sancho (Dilly Erlangga) seorang budak yang lugu dan setia menemani kemanapun tuannya berkelana, yang berhasil membuat penonton tergelak tawanya akibat tingkah lucu mereka berdua.

Yang begitu membekas dalam pementasan ini yaitu ketika Don Quixote yang salah mengira bahwa kincir angin adalah raksasa jahat dan menghunuskan tombaknya sehingga menyangkut pada baling-baling kincir angin seolah membenarkan imajinasinya bahwa ia sedang melawan raksasa jahat.Lalu menganggap seorang wanita muda dan cantik yang di temuinya sebagai kekasih sang ksatria Dulcinea de Toboso.

Seolah-olah ingin memberantas kejahatan namun yang selalu terjadi malah kejadian konyol yang membuat Alonzo dan Sancho malu sendiri. Seperti pada saat Alonzo yang terjatuh dari kudanya, Alonzo yang membebaskan para tawanan, serta ketika Alonzo dan Sancho yang berusaha menyelamatkan Nyonya Antonia yang mereka kira tengah disandera. Semuanya hanyalah gambaran khayalan Alonzo untuk menjadi pahlawan. Si pahlawan kesiangan (Alonzo) mampu menyihir semua penonton untuk percaya terhadap seluruh imajinasinya.

Segala upaya dilakukan untuk membuatnya tersadar dari imajinasi oleh orang-orang disekitarnya, salah satunya Garabina (Noor Hayati) sang keponakan. Ia menyusun rencana dengan Alfredo (Dindin Najmudin), Nicholas (Kunrat Sofyan), Pastor (Valentinus Pandia)

Pementasan Don Quixote yang di selenggarakan bulan Agustus 2019 ini sukses mendatangkan Dewan Kesenian Kota Bandung dan Duta Besar Spanyol, serta mendapatkan apresiasi dari Forum Teater Kota Bandung dan sekitarnya.

Kedutaan Besar Spayol





Ikuti kegiatan Teater Tjerobong Paberik dengan follow akun Teater Tjerobong Paberik lainnya

instagram : @teater_tjp
youtube : teater tjerobong paberik



Senin, 03 Agustus 2020

DELUSI oleh ukun

Perihal hati yang terus tercarut-marut oleh iri
Acapkali terbelenggu diantara dongeng manis dan kekacauan fantasi
Perempuan memang senang mengarang ilusi yang menyakiti
Berusaha menang melawan bayangan yang dibuat sendiri

Segera sudahi,
Kau lupa bila bahagianya dengan yang lain sudah terlewati

Sabtu, 25 Juli 2020

OMBAK MATI by DEHI

Kepada desir ombak tepian pantai
Yang senanitasa bertengger di sisi yang sama
Bukankah kita selalu punya cara untuk sampai disana
Bagaimana kembali di titik yang berulang
Menelisik bulir pasir nan hangat
Dengan segala akseoris pantai yang terpampang
Di barat yang terlihat seakan lautan menghabisi matahari Dengan sapuan warna kejingga jinggan

Menyibak karang nan angkuh
Menghantarkan buih pada permukaan
Menyapu cangkang kerang yang suwung
Yang dilakukan sudah sangat sering
Berulang hingga menjadi kisah
Tenang tiada gebu
Perlahan tapi pasti

Namun, Diluar kendali 
Tuhan berkata lain
Ombak besar datang
Aksesoris pantai rusak
Dan akhirnya, Lautan telah mati. 
Seisi pantai sudah tak lagi sama.
Ombaknya melebihi tepian yang di maksud

Selasa, 14 April 2020

Launching Angkatan Baru 21 Teater Tjerobong Paberik

Assalamualaikum Wr Wb warga online
SALAM BUDAYA..
VIVA TEATER..? BRAVO !!!

 Hai.... hai.... bagaimana kabarnya nih kalian??? semoga dalam keadaan yang baik yaa, ditengah kondisi yang seperti ini jangan lupa menjaga kebersihan ya teman-teman....


Pementasan yang diselenggarakan pada 13 Maret 2020 membawakan naskah berjudul "Belasa Kepampang" karya @rafipusla

Sutradara : @rafipusla

Aktor :
Toresz sebagai Ita
Colam sebagai Nenek
Nyotay sebagai Toni
Qo'Abh sebagai Anto
Sumo sebagai Hendri
Artistik : @senirupatekstil @afhamkaromien dan @buddhii_

Penata cahaya : @ladohshit

And support by :
@ftkbs_
@bemkmpolstttbdg
@politeknikstttbandung
@gemamusikkampus_
@psmgst
Media partner :
@lensa_kampus
@viskosagopublic

Naskah ini merupakan karangan anggota baru Teater Tjerobong Paberik, didalam naskah tersebut menceritakan warga suku tumi yang berasal dari Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung  yang terkena wabah penyakit gatal dan soulusi untuk menyembuhkan wabah tersebut adalah melakukan upacara  penumbalan. Pemain dari naskah belasa kepampang tersebut ialah seluruh anggota TJP angkatan 21 yang berjumlah lima orang yakni nenek yang diperankan oleh khairotul “colam”, Ita yang diperankan oleh Ayuka “toresz”, Anto yang diperankan oleh afham “nyotay”, Toni yang diperankan oleh Budi “qo’abh”, dan Hendri uang diperankan oleh Rafi “sumo”.

Di lereng gunung pesagi merupakan tempat tinggal suku tumi yang menyembah sebuah pohon bernama belasa kepampang . Pohon tersebut memiliki 2 cabang yang berbeda yaitu batang  sebukau dan batang lemasa. Tradisi disuku ini sangat mengerikan yaitu upacara penumbalan untuk sang pohon belasa kepampang. Musibah yang melanda akan hilang dengan menumbalkan seorang wanita rupawan. 

Launching sendiri bertujuan untuk memperkenalkan anggota baru Teater Tjerobong Paberik ke masyarakat kampus maupun luar kampus. Selain itu launching ini merupakan pementasan perdana yang bertujuan mempublikasikan anggota yang baru dilantik dan diberi nama panggung. Launching tahun ini, sudah dipersiapkan sejak awal semester 2 oleh anggota Teater Tjerobong Paberik angkatan 21. Dimulai dari pembagian tim produksi dan tim pentas, pembuatan naskah, bedah naskah, dan progres penunjang pementasan lainnya. Dalam hal ini dibimbing langsung oleh pengurus dan anggota Teater Tjerobong Paberik lain yang sudah menjadi alumni. Persipan fisik dan mentalpun juga dipersiapkan, mulai dari olah tubuh, olah vokal, dan olah rasa ang dilakukan secara rutin. 


nah, yang belum sempat menyaksikan launching anggota Teater Tjerobong Paberik 21, kita akan kasih tau beberapa cuplikan kegiatan  iniiii







yang masih kepo dengan kegiatan Teater Tjerobong Paberik lainnya, follow juga kita di
instagram : @teater_tjp
twitter : @TeaterTJP
youtube : tjerobong paberik


Sabtu, 29 Februari 2020

COMING SOON LAUNCHING ANGGOTA TJP ANGKATAN 21

COMING SOON
LAUNCHING ANGGOTA TJP ANGKATAN 21

Assalamualaikum Wr Wb warga online
SALAM BUDAYA.. VIVA TEATER..? BRAVO !!! 
Pada awal bulan Februari tepatnya tanggal 2 Februari 2020 calon anggota Teater Tjerobong Paberik resmi dilantik bertempat di villa inspiratif. Untuk memperkenalkan anggota baru kepada masyarakat serta memberi wadah kepada anggota baru untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat selama kaderisasi  maka diadakan launching. Dimana yang menjadi tim pentas dan tim produksi yaitu anggota baru. Judul pemantasan kali ini yaitu BELASA KEPAMPANG yang disutradarai oleh Rafi "Sumo" Pusla. 
Belasa Kepampang adalah sebutan pohon yang memiliki dua cabang yaitu batang lemasa dan batang sebukau, pohon itu adalah pohon suci yang disembah oleh suku Tumi yang berada di lereng Gunung Pesagi terletak di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung.
Pasti penasarankan dengan kisah pohon suci ini??????
Jangan lupa catat tanggalnya ya 13 Maret 2020 di Gedung Serbaguna Politeknik STTT Bandung.


Rabu, 29 Januari 2020

MATI by leheuy

di awal pejamku yang nyaman
mengais sejumput imaji yang hanyut pada laman duniawi
TEEEEEEETTTTT..............
manusia ramai sesak memenuhi badan jalan
ku kira sedang ada pembagian sembako gratis
TEEEEEEEETTTT..............
TEEEEEEEETTTT..............
rupanya sudah tiupan yang ketiga

kelak engkau temui aku di pembaringan yang mana ku renggang nyawa
pada bilik nomer 31
melewati seribu anak tangga
bila engkau tak temui aku diatas maka aku berada dibawah
bila engkau atau tak seorangpun datang
seharusnya aku menyesal
barangkali ketika aku menetap di bumi tak pernah singgah
barangkali ketika aku punya tak pernah membagi
barangkali ketika aku salah tak pernah maaf

Rabu, 31 Juli 2019

DON QUIXOTE SANG KESATRIA PENGEMBARA

COMING SOON !!!

Hallo Teman-teman, Bagaimana kabar teman-teman semuanya ?Pasti baik dong yah..hehehe

Sudah lama sekali kita tidak bersua dan saling sapa, mohon dimaafkan yah hehehe.Kali ini Teater Tjerobong Paberik sedang mempersiapkan satu pertunjukan nih teman-teman.

Pertunjukan apa sih yang sedang kita persiapkan ?

Nah ini dia teman-teman.Sekarang kita sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan yang lain dari biasanya. Karena kita mengangkat cerita legendaris Negeri Spanyol, yaitu Don Quixote The La Mancha, yang dimana novel tersebut sudah diadaptasi kedalam bentuk naskah drama oleh salah satu anggota kita yaitu Kang Topik Mulyana.Sebelum jauh membahas pertunjukannya, kita intip sedikit tentang novel legendaris Spanyol itu yuks.

Judul Buku : Don Quixote The La Mancha Karya : Miguel de Carvantes Saavedra.Terbitan Pertama : 1605 , siapa hayoo yang sudah lahir? hehehhe

Jadi Petualangan Don Quixote merupakan cerita ‘kesatria kesiangan’ yang mampu menyihir pembacanya untuk percaya terhadap seluruh imajinasinya. Ia berimaji sebagai seorang Don (kesatria) penumpas kejahatan yang terjadi di negerinya. Namun, ‘kesatria kesiangan’ tersebut adalah hasil imajinasinya. Pikirannya dijejali kelimunan mimpi-mimpi dan bayang-bayang, yang tak sanggup dihadapinya di dunia nyata.Bagaimanakah ‘kesatria kesiangan’ tersebut menggambarkan imajinasinya? 

Dapatkah ia sadar bahwa ia hidup dalam dunia imajinasi?Petualangan Don QUixote de la Mancha ini merupakan karya pengarang besar Spanyol, Miguel de Cervantes Saavedra, diterbitkan pertama kali tahun 1605 M. Karya ini merupakan salah satu novel besar yang menjadi perbincangan sepanjang masa, dan telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa di belahan dunia Barat.
Pengarang buku ini bernama Miguel De Cervantes, seorang novelis dan penyair kondang Spanyol. Pertama kali melihat sampul bukunya, ekspektasi saya melayang bahwa novel pendek ini akan bercerita tentang cerita kolosal Eropa yang tidak akan jauh-jauh bersinggungan dengan kesatria yang berpetualang dan bertemu putri raja. Namun setelah membalik buku tersebut dan membaca sedikit review dari editornya, ternyata buku ini merupakan cerita yang dihasilkan dari sudut pandang orang dungu yang sedang berhalusinasi. 

Ups, jangan terlalu banyak ya teman-teman, nanti jadi gak seru lagi dong, kalau semua dikeluarkan , hehehe
Mau tau keseruan petualangan Don Quixote yang akan dibawakan oleh Teater Tjerobong Paberik?

Tetap pantau jadwal kita ya teman-teman kita bakalan tampil di Bulan Agustus 2019.

Jadi Seperti apa Ceritanya ?

Ikuti terus kami. 




Sabtu, 26 Januari 2019

NASKAH FESTIVAL PUISI TINGKAT SMA SE KOTA BANDUNG 20-23 MARET 2019


SAJAK IBU
Karya: Wiji Thukul


ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap

ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis ketika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun

kasih sayang ibu
adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
membangkitkan haru insan
dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
Karya: WS Rendra

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kaki coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan dia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.

Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik dapat berlaga.
Orang berkata “Kami ada maksud baik”
Dan kita bertanya: “Maksud baik buat siapa?”

Ya! ada nan jaya, ada nan terhina
Ada nan bersenjata, ada nan terluka
Ada nan duduk, ada nan diduduki
Ada nan berlimpah, ada nan terkuras.
Dan kita di loka ini bertanya:
“Maksud baik saudara buat siapa?”
Saudara berdiri di pihak nan mana?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani nan kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan nan luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan nan diimpor
tidak cocok buat petani nan sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara buat siapa?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara nan panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik buat memihak nan mana?
Ilmu-ilmu nan diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tak akan mereda.
Akan hayati di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samudra.
Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada nan menangis, ada nan mendera.
Ada nan habis, ada nan mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak nan mana!

NASKAH FESTIVAL MEMBACA PUISI TINGKAT SMP SE KOTA BANDUNG 20 - 23 MARET 2019


Karya: Ahmadun Yosi Herfanda

Kehilangan ladang di kampung mereka
Anak-anak Indonesia merangkak
Di lorong-lorong gelap kota
Menggelepar dalam gubuk-gubuk tanpa jendela
Anak-anak Indonesia, akan digiring ke manakah mereka

Bagai berjuta bebek mereka bersuara
Menyanyi lagu tanpa syair dan nada
Sebelum matahari terbit, anak-anak Indonesia
Berderet di tepi-tepi jalan raya, menggapai-gapaikan
Tangan mereka ke gedung-gedung berkaca
Yang selalu tertutup pintu-pintunya
Dari pagi hingga sore mereka antre lowongan kerja
Tapi lantas dibuang ke daerah transmigrasi

Terusir dari tanah kelahiran (demi bendungan
dan lapangan golf, katanya) anak-anak Indonesia
tercecer di pasar-pasar kota, di kaki-kaki hotel,
dan biro-biro ekspor tenaga kerja
Anak-anak Indoesia, akan dibawa ke manakah
Ketika bangku-bangku sekolah bukan lagi dewa
yang bisa menolong nasib mereka?

SURAT DARI IBU
Karya: Asrul Sani

Pergi ke dunia anak-anaku sayang
pergi ke hidup bebas!
Sesama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

BEGITU ENGKAU BERSUJUD
Oleh : Emha Ainun Najib

Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki
alam makrifat

Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara
adzan

Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
didengar Allah, engkaulah tilawah suci

Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
Allah, engkaulah ayatullah
Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid


Kamis, 25 Mei 2017

Produser TJP periode 2017-2018




Selamat atas terpilihnya Ilham Muhammad Ilyas 'LB' menjadi Produser Teater Tjerobong Paberik periode 2017-2018. 

Jadilah produser yang amanah dan bertanggung jawab. Bisa mengemban tugas dengan baik. Membawa nama TJP menjadi lebih harum lagi di mata masyarakat kampus maupun luar kampus.

Seperti motto hidupnya " Tegarlah seperti batu karang dan genggamlah dunia sebelum dunia menggegammu". Semoga menjadi pegangan untuk pria kelahiran Bandung, 16 Oktober 1997 ini membawa TJP lebih maju walau dengan badai yang mencoba menerjang.



Salam Teater,

Dengan Berkaya Kita Ada








Senin, 08 Mei 2017

Titik

TITIK

Titik adalah tanda baca yang mengisyaratkan bila kalimat telah di akhir.Namun bukan berarti setelah titik semuanya berakhir.
Filosopi titik adalah sifat penegasan terhadap suatu hal, atau estetika dalam menjalani suatu kegiatan apapun itu.

cerita tentang anak luar biasa yang mempunyai dunianya sendiri mencoba untuk meramalkan masa depan yang sesungguhnya sudah ada garisan ceritanya.
ini hanya cerita dangkal yang terjadi begitu saja dengan dasar kebencian dan kesakitan yang mungkin tidak semua orng rasakan.

namaku gunes, aku diam dan hanya menjadi biasa saja pada kehidupan sehari hari orang lain.mungkin normal saat sebagian menganggapku anugerah atau ujian, karna memang setiap otak memiliki darah yang berbeda.


bismillahirrahmannirrahim.....

JUDUL   : TITIK
TOKOH  :
- Gunes "tidak ada, namun nyata dalam cerita..."
- baturaja "sang pembaca doa"
- suara "melambangkan budaya dan kesenian" (3 org)
- gerak "keindahan yang mulai sirnah" (10 org)
- getih "sperma" (3 org)
- manusia "manusia" (20 org)


scene I : pembukaan (baturaja)
set panggung 1 lampu merah (stage 1) , baturaja masuk meminta izin pementasan titik agar berjalan lancar dan hikmat....
membacakan doa....

durasi : 7 menit

Pun sapun Sampurasun
Amit ampun nya paralun
Seja kaula mipit amit ala menta.

Bul kukus ngelun ka manggung
ka manggung neda papayung
Ka pupunclak agung pamunjung hyang guru agung pangruhum
Nu nunggal di kalanggengan nu langgeng dina nunggalna
Nu ngabogaan sakabeh alam
Nu ngabogaan sakabeh jagat

ka sang rumuhun ka batara ka batari ka rhesi jeung pandita
Ka batara neda suka ka batari neda suci.

Ka ibu agung ka rama agung, ka ibu anu henteu mungguran ka rama anu henteu munggaran.

Deheus na ka ibu rama anu jadi cukang lantaran urang gumelar di pawenangan.

Nyanggakeun sadaya-daya pangabakti sasaji sapuratina nampi sari nampa rasa pangasih ti ibu pertiwi.

Bumi ageung bumi alit silokaning pusaka diri kami ka manusa nu sarasa, nu sasaji, titis waris nu sajati.

Geus jadi uga nu natrat dina waruga gumulung jadi sumsum, jadi balung, jadi bagal pangawasa,

Diruwat ku sasajen sangkan sa ajen, sa aji, sapangarti jadi budi patmi anu tata titi surti tur nastiti geusan nyangking pangawasa gusti dina sarira sajati.

JiSimkuring nyanggakeun sekar pangiring catur kabuyutan ka para papayung nagara oge ka para tutungul nu ngadeg dina batu nunggal.

Tempat tepungna kuring jeung nu ka tukang, tempat tepungna kuring jeung nu can ka sorang, tempat tepungna kuring jeung kurungna.

Bis ling lang ki alip tog enong alam padang tog enong kujang sing marga enong.

Jagat saleker wis tekleker
Jagat sakepel wis tekepel
Ya ingsung pangeran kang purbawisesa.

Roh bani sumare ing na katut lan usus asalna cahya bumi rupa na hideung.

Roh hewani sumare ing na jajantung lan getih lan dangu asalna cahya geni rupa na bereum.

Rohani sumare ing na nyata na pikiran lan ingetan asalna cahya angin rupa na koneng.

Roh mani sumare ing na utek lan rasa lan awas asalna cahya banyu rupa na bodas.

Roh ati sumare ing na paparo anu nyata na suci asalna tetesan ing datyahung.

Roh irobi sumare ing na udel nu bijil ti kudus robil kudus nu ngeusian roh lan raga lan sakabeh alam.

Atuh ka dulur kula anu sajati anu calik di palih kulon pamuka lawang pakar mala ikat na ajal putih

Ka dulur kula anu sajati anu calik di palih wetan bali bakir mala ikat na purwa kawasa

Ka dulur kula anu sajati anu calik di palih kidul tali ari-ari pur mala ikat na untun rasa

Ka dulur kula anu sajati anu calik di palih kaler getih putih mala ikat na ajal pisah

Nyusur tapak tilas jiwa , tapak jiwa tilas akma, tapak akma tilas sukma, tapak sukma tilas nyawa, tapak nyawa tilas maha cahaya

Manunggal sajatining abdi kaula diri, Manunggal sajatining abdi kaula manusa, Manunggal abdi sajatining kaula gusti.

Atuh inten-inten ing manusa lulumpuhan pulo nafas hurip, huripna teu keuna ku pati, langgengna teu keuna ku owah hurip langgeng salawasna.

Hung ahung ka susuk tunggal nu wanik wenang ka dupak ku ci rohani, ka dampit ku ci rohani
Gunung guruh candra rerang, cihaliwung nu nyangidul nu nyangkokolakeun gunung kujang

Liliri buku citarik tatangga buku cisalak ayahing ibu ti handap sang ratu tujah kalangkang, Ngadingding ibu pertiwi dipunah ku rajah pamunah

Datyahung geter giling angling dharma saking wetan kula neda hampura anu linggih pun dika ratu sampurna.

Ratu sunda nu sa jawa nu bakal nyelamkeun umat sadaya caangna cahya pangandika pancerning jati pangucap sajati ka sanghyang bugel datyahung.

Ingsun dharma lakoni teges mapag sinyaluri nutur bumi
Cur mancur cahayning gusti sembahing alam sakabeh pancena ngiring kersa na,
sup bayu kakurungan rahayu nyurup ing waruga.

Waruga cangkang manusa mangka rancage ning hate mangka waruga ning rasa teges natrat nitis tulis ingsun dat haaaa nu manunggal, manunggaling hirup hurip salawasna

Manawi bahan katampi nyanggakeun kaula gusti sadaya-daya pangawasa kagungan anjeuna, geusan netepkeun katunggalan wujud gusti nu maha suci

Jadi jalma nu manut kana rasa panceg pageuh ngalakon dina diri anu cageur, dina adat anu bageur, dina polah anu bener, dina pangarti anu pinter, sangkan pinangbihing nu rahayu bagja waluya

Hirup waras jati walagri nagri sampurna.
Rahayu... rahayu...rahayu...kersaning gusti rahayu

scene II : latar belakang (getih)
set panggung suasana redup (merah kuning, stage 2), koreo getih.
pembacaan ayat dari Al-Quran tentang terjadinya manusia dari sperma - darah - daging - hingga menjadi manusia

"Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.”

“……Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya….”

"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan, yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”

dur : 7 menit

scene III : suara
set panggung redup 1 lampu (stage3), penyanyian 1 tembang

Bangbung Hideung bara-bara teuing diri
Leuheung bari diangge ka Sukagali.Situ pinuh balong jero.Bebendon sareng bebendu unggal ti.Salira juag awi teh pangajul buah lantaran kitu.Sora bedil luhur mega paripaos.Teu paya lepat saeutik.Diri abi kagamparan
Eeh banondari.Nu geulis kawanti-wanti.Nu endah na malih warna puputon kembang kadaton.Jungjunan
Lamun teu kauntung tipung.Katambang beas laksana kapiduriat.Matak paeh ngabale bangke.Matak edan leuleuweungan.Matak paeh ngabale bangke.Matak edan leuleuweungan.Matak paeh ngabale bangk.Matak edan leuleuweungan. Aduh alah iyeung da leuleuweungan
Aso-aso lali wao-wao waeng. Aso-aso lali wao-wao waeng
Aya ucap paribasa.Sarung bantal mungguh cipruk.Seep saputangan hiji.Ceurik balas ku nalangsa.Abdi nalangsa
Nguping hujan tengah wengi.Diimah keueung sorangan.Nguping hujan tengah wengi.Diimah keueung sorangan
Nyagigir asa gigireun.Nangkarak asa luhureun.Nyagigir asa gigireun.Nangkarak asa luhureun.Aduh alah iyeung asa luhureun
Aso-aso lali wao-wao waeng.Aso-aso lali wao-wao waeng
Jung nangtung asa lalanjung.Gek diuk asa tiguling.Leumpang asa da ngalong kewang.


scene IV : buruh buruh buruh harus mati (manusia)
set panggung terang (stage1), 20 manusia berbondong mengangkat 1 benda sambil menangis haru dan lantang berteriak buruhburuhhuhuhuhu.....

dur : 15menit

scene V : isi (suara)
set panggung terang (stage 3) solois menyanyikan indonesia raya

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

scene VI : titik
monolog kembang
" aku adalah manusia biasa hahahahaha.....aku bukan siapa siapa.....dan sudah selayaknya aku dan keturunan ku salah dimata kalian para mata, mata , mata (sambil menutup mata menghadap audiens, mimik menentang)
jalan hidupku sudah kau tentukan maka aku akan mengubahnya, dan aku akan menjadikan mereka batu batu yang tidak berguna....
aku mencintai ragaku sendiri dan aku dapat menciptakan apa yang tidak dapat kau cipta.
mengenai siapa tuhan ku maka itu menjadi urusanku, maka uruslah urusan temanmu.
.....
ada masa dimana dia adalah kakaku dan detik esok ia adalah darah darah yang akan ku minum, bukan kah begitu dunia ini tercipta skenarionya??

bernyanyi :
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler. Genjer-genjer nong kedokan pating keleler.Emake thulik teka-teka mbubuti genjer.Emake thulik teka-teka mbubuti genje.Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih.Genjer-genjer saiki wis digawa mulih
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar.Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar.Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar.Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar.Emake jebeng padha tuku nggawa welasah.Genjer-genjer saiki wis arep diolah
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak.Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak.Setengah mateng dientas ya dienggo iwak.Setengah mateng dientas ya dienggo iwak.Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca.Genjer-genjer dipangan musuhe sega

lampu mati disertai audio suara tembakan.